Rabu, 29 Januari 2014

ff anak berduit


 Anak berduit

Author           : ByunKaNish
Main cast       : -Kim Jongin
                          -Kim Sehoon (Oh Sehoon)
                          -Kim Yifan (Wu Yifan)
Other cast      : -Do Kyungsoo
                          -Xi Luhan
                          -Zelo
Genre             : humor gak jadi, family, bromance
Rating            : Kid
Note               : ff ini remake dari kartun ‘Hello Jadoo’ yang judulnya (kalau gak salah) sama kayak judul fanfic ini. ngeliat adik kecilnya Jadoo, jadi keinget Sehun. Ayoooo dinikmati *emangnya makanan? -_-‘

.
.
.
Siang hari di kediaman keluarga Kim yang begitu-begitu saja (maksudnya tidak ada yang berubah). Suasana bising yang sudah sangat biasa memenuhi ruang tengah. Mereka sedang menunggu pembagian gaji mereka.
Kim Jongin dan Kim Sehoon terus-terusan berkelahi dan saling merebut robot-robotan yang jelas-jelas milik Kim Yifan, alias Kris. Tapi yang punya mainan hanya memangku tangan dan sedang memikirkan mobil-mobilan terbaru yang tadi sempat ia lihat di toko mainan saat ia pulang sekolah kemarin.
“Hei, anak-anak!” sapa sang oema. Dengan ‘semangat 45’ mereka merubungi Taeyeon sambil mengadahkan tangannya. Taeyeon menghela nafas. Jadi dari tadi mereka disini sedang menunggu jatahnya! -_-‘
“Ini,” oema membagi-bagikan uang kepada ketiga anak ‘setan’ itu.
“Yaah!” ketiganya dengan kompak menyuarakan protesannya.
“Cuma segini?” sahut Jongin kesal.
“Oema, ini tidak cukup membeli mobil-mobilan.” Rengek Kris.
Dan langsung hening. Ketiganya menoleh ke si kecil. tidak ada kata protes dari Sehun yang hanya menatap uang beberapa lembar itu.
Desahan keluar dari mulut oema. “Ok, uang ini hanya digunakan selama seminggu. Jadi… ini jatah kalian selama SEMINGGU!” tekan oema sadis. Ketiga anak kecil itu melongo. Oh, ayolah! Mereka ingin membeli ice cream, snack, chocolate,  bahkan mainan kesukaannya.
“Ta-tap…”
“Tidak ada tapi-tapian! Terima saja!” putus oema, dan langsung berlalu kedapur.
“Tapi… tapi… tapi… tapi… tapi… tapi… tapi…” begitu seterusnya.
Tidak ada jawaban dari Taeyeon.
“Oh, aku ingin beli ice cream!”
“Aku ingin beli mobil-mobilan”
Jongin dan Kris terus-terusan menggerutu. Sedangkan Sehun malah menghilang diantara ketiganya. Begitu misterius.
“Hei, dimana Sehun?” tanya Kris mulai menyadari dimana adik kecilnya. Keduanya bertatap sebentar. Dan keduanya kompak tersentak.
Dengan berlari, keduanya menuju kekamar mereka bertiga. Disana Jongin dan Kris mengintip, melihat kelakuan Sehun yang membelakanginya. Melihat kelakuan Sehun yang mencurigakan, membuat kedua saudara tampannya penasaran.
“Sehun,” dengan berani Jongin memanggil Sehun. Merasa terpanggil, namja kecil itu membalikan badannya menghadap Jongin dan Kris.
Jongin dan Kris terkaget dengan apa yang dipegang adik terkecilnya. “CELENGAN!” histeria massa tengah terjadi.
Sehun tidak mengerti dengan kelakuan kakak-kakaknya yang kian hari kian aneh. “Apaan sih! Lebay banget.” Ejek Sehun dengan gaya anak alay. Ia membalikan badannya dan menaruh celengan ‘babi merah’ miliknya di lemari kecil.
“Sehun, apa yang kamu lakukan?” tanya Kris.
“Memasukan uang ke celengan,” jawab Sehun polos.
“Kamu gak pake uang itu untuk beli es krim?” kali ini si item Jongin yang bersuara.
“Nggak!” tegas Sehun. “Uangnya kucelengin. Kata oema menabung untuk masa depan lebih baik dimulai dari sekarang,” ujar Sehun bijak. Lagi-lagi kedua saudaranya tercengang dan membuka mulut selebar-lebarnya.
“Lihat ini!” sehun membuka kedua pintu lemarinya. Disana ia memperlihatkan banyak celengan serupa (babi berwarna merah). “Sebanyak itu?” gumam Kris.
“Nggak kusangka!” sekarang Jongin yang bergumam.
Keduanya lagi-lagi saling pandang, dan dengan kompak mereka menjauh dari kamar ketiganya untuk berdiskusi singkat.
“Kamu lihat gimana banyaknya celengan Sehun?” tanya Kris membuka topik.
“Iya. Banyak banget.” Jawab Jongin.
“Kupastikan Sehun paling kaya dikeluarga kita.”
“Bahkan menandingi oema dan appa.”
Keduanya mengangguk. Dan tiba-tiba Jongin menyeringai. “Aku ada ide.”
Kris tertarik dengan perkataan Jongin. “Apa?”
“Bagaimana kalau kita minta uang ama Sehun? Dia kan banyak uang, apalagi kita ini kakaknya. Pasti dikasih.”
“Aku setuju.” Kris terlihat bersemangat. “Tapi kamu yang berperan.”
“Siip!”
Jongin mendekati Sehun yang sedang menggambar rusa (yang akan diberikannya kepada seseorang). “Sehunnie,” panggil Jongin. Sehun menatap Jongin yang sedang mengedip-kedipkan matanya. “Kenapa hyung? Kelilipan?”
Jongin tersentak, apakah segitunya juga ya? “Aniya.”
“Terus?”
“Ehm,” Jongin berdehem untuk menetralkan nafas dan suaranya (atau sedang berfikir apa yang akan dikatakannya). “Begini Sehunie..” sehun merasakan firasat yang tidak enak.
“Apakah kamu gak kasihan sama hyungmu satu ini?” Jongin mulai melancarkan aksinya. Ia bersimpuh dan memegang kedua tangannya yang saling bertautan. Mata Jongin berkaca-kaca.
Aktingmu begitu buruk Kim Jongin!
Dibalik pintu kamar Kim bersaudara, Kris menahan tawa melihat tingkah Jongin. Ia berguling-guling dengan memegang perutnya. Ah, akting Jongin memang payah.
Sehun juga menilai seperti itu. Ia bahkan menatap jijik Jongin (Secara terang-terangan). “Jangan melakukan hal itu, hyung! Menjijikan.”
Jongin sebenarnya bersiap untuk marah. Tapi demi kelancaran rencana yang sudah disusunnya, ia akan tetap bertahan. “Sehunie, tatap mata kakakmu yang paling tampan ini,” pinta Jongin dengan nada melas.
Sehun rupanya sedang tidak peduli. tapi lagi-lagi mendengar rengekan (yang begitu menjijikan) dari Jongin membuat Sehun menatap mata Jongin dengan datar.
“Apa yang kamu liat dimataku ini?”
Sehun berfikir, “Ada belek di mata Jongin hyung.”
GUBRAK!
Kris yang berada dibalik pintu itu menatap cengo adik-adiknya. Yang satu polos, yang satunya lagi narsis nan geblek.
“Bukan itu Sehun!” Jongin terlihat begitu kesal.
“Terus apa? Jongin hyung mau minta uang?” tebakan Sehun begitu tepat sekali. Jongin yang sedang kesal menatap Sehun dengan pandangan berbinar.
“Kok Sehunie tau?” tanya Jongin melunak.
“Tentu aku tahu. Wajah Jongin hyung saja wajah rakyat gem ‘to the’ mbel. GEMBEL!”
Jongin betul-betul tidak tahan dengan adik kecilnya yang sangat menyebalkan. Ingin sekali ia menjitak kepala adiknya hingga menangis. tidak peduli ia akan diceramahi oema dan appa. Itu urusan kebelakang. Yang penting dendam telah terbalaskan.
Tapi ia ingat misinya. Aduh! Kalau hal satu ini sepertinya ia akan menahan rasa marahnya. “Terus, jika kau tahu wajahku mirip orang melas, kenapa tidak segera memberi bantuan sedikit pada hyungmu satu ini?”
“Maaf hyung. Aku nggak suka menghambur-hamburkan uang. Hyung minta sana sama oema.”
“Mana mungkin dikasih, Sehun!!!”
“Kalau tahu gak dikasih, kenapa minta?”
Pernyataan singkat dari Sehun membuat Jongin menyerah. Entah apa yang akan dipikirkan selanjutnya. Ia melangkah keluar kamar seperti orang yang kalah perang.
“Biar kutebak…” Kris yang mendapati adiknya yang nakal ini mendadak lemas mulai bermain tebak-tebakan. “Pasti gagal.”
Jongin melengos. Sayang sekali, padahal besok ia berjanji akan mentraktir Kyungsoo es krim saat pulang sekolah.
“Ha~ ha~ udah aja.” Kris menepuk-nepuk punggung Jongin, mencoba untuk menghibur Jongin.
“Nggak bisa, hyung. Aku harus mencoba sekali lagi!” tiba-tiba saja kobaran semangat melanda Jongin. kris yang melihat itu hanya geleng-geleng kepala.
“Ya, udah. Kalau berhasil nanti bagi dua, ya!” pinta Kris dan ngeloyor pergi.
“Enak aja! Beraninya minta-minta doang.”
.
.
.
“Sehun!”
Panggilan cempreng yang (sok) manis membuat Sehun menoleh. Ia terpaksa menghentikan kesibukannya (mewarnai gambar yang dibuatnya).
“Apa, hyung?”
“Ekhm…” Jongin berdehem sebentar, setelah itu duduk didepan Sehun. “Begini, hyung akan nyeritain tentang pengalaman hyung.”
Jongin menerawang. “Dulu, hyung adalah orang yang rajin menabung. Bahkan celengan hyung lebih banyak daripada kamu punya.”
“Beneran? Trus dimana?” Sehun mulai antusias.
Jongin menutup matanya dan melipat kedua tangannya didada, dan jangan lupakan kakinya yang disilakan. “Jadi…”
.
Flashback mode on!
Jongin P.O.V
Dulu aku selalu minta uang sama oema dan appa dengan alasan untuk kucelengi. Waktu itu, kamu belum lahir.
“Oema, minta uang. Aku pengen nambahin dicelengan.”
“Ini Jongin, anak pintar.”
“Appa, minta uang.”
“Buat apa?”
“Akan kucelengi.”
Appa pada saat itu merogoh kantung celana kolornya. “Ini Jongin. gunakan hal yang baik.”
Hari demi hari aku mengumpulkan receh demi receh untuk masa depanku. Tapi, hingga suatu hari…
Aku mendengar percakapan oema dan appa.
“Aduh, gimana nih. Kulkas lagi rusak. Harus segera diperbaiki.”
“Tapi uang gajianku mungkin kurang.”
Aku yang bersembunyi, lalu langsung menampakan diriku. “Aku pulang!”
Oema dan appa menatapku, dan tiba-tiba bertatapan lalu tersenyum penuh arti. “Jongin, kemarilah.” Oema menjadi begitu baik. Aku mempunyai firasat yang begitu buruk. Tapi aku tetap mendekat.
“Ada yang kita mau bicarakan.”
“Apa oema?”
“Ini masalah uang.” Tiba-tiba appa menyela. Aku tidak mengerti apa yang mereka katakan.
“Begini Jongin… oema dan appa mau meminjam uangmu untuk menyerviskan kulkas.”
“Eh…”
“Tidak apa-apakan Jongin?”
Aku yang waktu itu masih kecil hanya mengangguk. Walaupun sebenarnya aku tak rela.
Nah, disitu letak permasalahannya. (sehun yang mendengar nada awal Jongin, hampir terjatuh)
Sejak aku meminjamkan uang celenganku kepada oema dan appa, celenganku selalu berkurang. Karena oema dan appa meminta ini itu.
“Jongin, oema ingin beli sesuatu yang menarik dipasar. Boleh pinjam uangmu?”
“Appa ingin beli televisi baru, gambarnya akhir-akhir ini sering bermasalah. Appa boleh pinjam uang, Jongin? ini juga agar kamu bisa melihat dengan baik televisinya.”
“Jongin bisakah…”
“Jongin, bolehkah…”
Tiap saat selalu seperti itu. oema dan appa senang, sedangkan anaknya yang tampan ini menderita. Terkadang juga, Kris hyung datang meminta uang. (dalam hati Jongin komat-kamit, bedoa. Semoga Kris tidak ada disekitar sini karena namanya dijadikan kambing hitam).
Celenganku habis. Tidak ada yang tersisa
Aku menderita dan melarat.
Flashback mode of!
Jongin P.O.V end

“Jadi, sebelum oema dan appa minta uangmu, habiskan aja! Bersenang-senang! Setelah itu bagi sama hyung,” hasut Jongin dengan nada semangat (bahkan tangannya mengepal dan diangkat keatas, mirip seperti seorang provokator).
Sehun yang mendengar cerita dari Jongin merasa sepertinya itu benar. Lihat saja dari perawakan sang kakak. Melarat (ayolah Sehun! Sedari tadi kau terus menghina kakakmu ini).
“Jadi, gimana?” tanya Jongin berapi-api. Sehun menatap kearah celengannya, wajahnya sudah memerah.
“Tapi, hyung…”
“Tidak ada tapi-tapian Sehun! Sebelum oema dan appa minta.”
Sehun terhasut.
Rupanya Jongin punya bakat menjadi seorang iblis juga.
“Tapi, besok aja ya, hyung.”
“Kenapa besok?” jongin jelas kaget. Kenapa besok? Sekarang saja bisa.
“Aku pengen hari ini terakhirku sama celengan,” aku Sehun. Sebenarnya Jongin pengen menjitak Sehun.
Dasar anak polos!
“Iya, iya. Tapi besok, kan? Awas kalau nggak!” ancam Jongin. Ia melangkah dengan riang, menjauhi Sehun. “Selamat malam, Sehun!”
Namja kecil itu mulai menyusun rencananya besok. Dan ada satu hal yang akan direncanakannya. Kris juga harus diberitahu. Walaupun sebenarnya agak (atau sangat) berat juga mengatakan pada Kris jika ia berhasil.
Kris itu menakutkan (ini bagi Jongin). jika ia ketahuan berhasil, bisa-bisa ia akan disiksa (terlalu berlebihan pemikiranmu tentang Kris, Kim Jongin). Dan yang lebih parah, akan banyak hal memalukan yang diceritakan Kris pada Kyungsoo (calon pacar dari Kim Jongin).
Jadi, sebelum hal itu terjadi, Jongin akan memberitahukan Kris.
.
Sehun terus memandang celengannya. Ini sudah tengah malam, yang umumnya bagi anak kecil untuk tidur. Ia merasa sedih. Hari ini (karena waktu sudah menunjukan pukul 00.00) Sehun melepaskan celengannya (diantara dengkuran keras Kris dan Jongin).
Ia menangis. sambil mengatakan kalau dirinya sebenarnya begitu menyesal melepaskan celengannya, yang selalu mengisi hari-hari seorang Sehun. Padahal uang itu ia cari dengan keringat dan darah (kau betul-betul mirip dengan Jongin, berlebihan).
Mendadak namja nan tampan berkulit seputih salju itu (gara-gara kalian berdua tulisan ini terlihat begitu berlebihan) mendapatkan sebuah ide. Ide yang akan membuat hari esoknya begitu tenang untuk melepaskan celengan-celengannya. Hal itu membuatnya merasa tenang. Dengan sedikit berlari ia menuju tempat tidurnya, dan bersiap tidur.
Tidak sabar mendapati pagi hari, dan melihat wajah-wajah hyungnya yang akan membuat Sehun terhibur.
.
.
.
.
“Hai, hyung!” deheman kencang itu membuat seorang namja manis itu menoleh. Sang pelaku yang melihat incarannya, nyengir selebar-lebarnya.
“Ada apa Jongin?” suara yang paling disukai sang pelaku itu terdengar. Bertanya.
“Be-begini…” ada apa dengan Jongin sekarang? Gugup sekali.
“Apa?” orang yang ditanyai bertanya dengan tidak sabar.
“Be-begini… apa besok hyung nggak ada acara?” tanya Jongin cepat. Orang yang ditanyai itu membulatkan matanya yang besar. Ekspresinya terlihat sangat berlebihan (tapi menggemaskan bagi Jongin).
“Nggak ada. Wae?”
“Aku pengen ngetraktir hyung makan es krim.” Jongin terlihat sangat antusias. Wajah manis itu tersenyum, mengangguk. Jongin yang melihat itu menjadi bersemangat.
“Aku tunggu besok. Selamat tinggal hyung!” Jongin melambaikan tangannya dan berlari pergi. Namja kecil manis itu melambaikan tangannya juga.
Jongin merasa hari ini adalah hari terbaik yang pernah dilewatinya. Dengan bahagia, ia menyandungkan lagu ‘good day’ milik solois terkenal IU (walaupun terkadang menjadi sumbang).
Iya, Jongin. hari ini memang hari terindah. Dan terburukmu.
.
.
.
“Aku pulang!”
“Aku pulang!”
Kedua lelaki kecil itu pulang bersamaan. Keduanya saling pandang dan tersenyum penuh arti. Mereka berlari menuju kamar ketiganya dan berteriak memanggil Sehun.
Tidak ada yang menyahut. Keduanya menjadi curiga. Dengan langkah curiga (?) keduanya membuka pintu kamar dengan pelan. Disana ada pemandangan yang membuat keduanya syok begitu saja.
Apa-apaan ini!
Celengan milik Sehun sudah pecah sebelum keduanya pulang kerumah.
“Oema pulang!” Kris dan Jongin berlari menuju pintu depan.
“Oema… Oema…” keduanya mulai bersiap mengadu, tapi melihat Sehun meminum bubble tea membuat keduanya bungkam.
“Ada apa Jongin, Kris?” tanya oema tidak mengerti melihat tingkah keduanya yang tiba-tiba terdiam.
“Apa kabar, hyung? Bubble tea-nya enak,” pamer Sehun. Tiba-tiba, dibelakang keduanya ada seorang kurir membawa sebuah dispenser.
“Kiriman dispensernya!” orang berseragam biru tua itu berteriak. Oema yang melihat kedatangan sang kurir menjadi antusias. “Wah, cepat sekali!”
“Dispenser baru?”
“Oema beli dispenser baru. Sedang diskon,” jelas oema. Jongin dan Kris melipat dahinya. Oema dapat uang dari mana? “Oh, iya! Sehun begitu baik memberikan uang celengannya untuk membeli dispenser baru. Iya kan Sehun!” oema mengacak rambut Sehun dengan gemas.
Pernyataan barusan membuat keduanya SHOCK!
Sehun hanya nyengir. Rencana yang sangat berhasil bukan!!!!
.
Esoknya, Jongin tidak mau bertatap dengan Kyungsoo (orang yang kemarin ditawarinya berkencan). Ia terlalu malu. Ia takut dicap sebagai orang yang sering PHP (Pemberi Harapan Palsu) kepada Kyungsoo. Ia tidak mau dianggap orang yang tidak menepati janjinya. Ada banyak spekulasi yang terus mengitari kepalanya.
Kyungsoo sendiri menjadi gemas. Alhasil ia malah bertanya sendiri kepada Jongin prihal jadi atau tidaknya mereka beli es krim (itu dikarenakan Jongin tidak ingin menatapnya terus-menerus).
Dengan perasaan malu, Jongin mengatakan tidak bisa karena tidak punya uang. Kyungsoo sendiri hanya tersenyum maklum. Ia mengelus kepala Jongin dan mengucapkan terima kasih karena pernah mengajaknya. Mungkin lain kali mereka bisa melakukannya.
Jongin juga ikut-ikutan tersenyum malu. Tapi, entahlah kapan bisa terlaksana.
.
.
.
Siang ini terasa sangat aneh. Sehun jadi begitu murung dan terlihat memikirkan sesuatu. Ada apa dengan maknae satu itu?
Hal itu dirasakan kedua kakaknya. Mereka telah melupakan kejadian dua minggu yang lalu. Keduanya mendekat ke Sehun, yang tengah duduk-duduk ditaman belakang.
“Ada apa Sehun?” Kris mulai membuka percakapan.
Sehun diam.
“Hei, nggak mau bilang?” Jongin yang gantian bicara, sambil memukul lengan adiknya.
“Aduh! Sakit hyung!” ringis Sehun.
“Ayo, cerita. Nanti tambah sakit, lho!” ceplos Jongin (betul-betul anak aneh).
“Iya, cerita aja Sehun.” Kris mulai ikut-kut mendesak.
“Iya, iya! Aduh, bawel sekali sih kakakku satu-satu ini,” balas Sehun yang tidak suka didesak-desak seperti itu. “Jadi, aku diundang sama Zelo…”
“Terus dimana letak permasalahannya?” potong Jongin.
“Diamlah Kkamjong!” bentak Kris.
Sehun melihat pertengkaran kecil itu hanya menghela nafas, “Memang bukan disitu, tapi disana ada orang yang kusuka.” Sehun mulai mengaku, wajahnya bersemu merah.
“Aah~ uri Sehunie, udah besar,” goda Kris. Sehun hanya mesam-mesem saja.
“Ayolah, aku nggak tahu dimana letak permasalahannya!”
 sungut Jongin, kedua bersaudara (Kris dan Sehun) itu melongo. Jongin mulai deh, lemotnya!!!
“Ekhm…” Kris berdehem, ia mulai (sok) berprilaku layaknya orang dewasa. “Jadi, Sehun nggak pede pergi kepesta itu?”
Sehun mengangguk.
“Siapa orang itu?”
“Xi Luhan,” jawabnya dengan jujur. Entah ikatan batin atau apa, kedua bersaudara itu mempunyai ide yang sama. Keduanya menyeringai.
“Oh, serahkan itu semua sama kita berdua,” ujar Kris pede. Jongin mengangguk. Sehun menatap antusias kedua kakaknya yang akan menjahatinya.
Sehun melupakan kedua kakaknya adalah orang jahat.
Terlalu buta karena cinta mungkin?
“Ayo kita lakukan!” paksa Sehun. Sehun tiba-tiba bersemangat. Ia meraih kedua tangan kakaknya menuju kamar keduanya. Dibelakang Sehun, Kris dan Jongin saling pandang dan tersenyum licik.
“Wo~ tidak sabaran sekali uri Sehunie ini!” goda Jongin. sehun mengiyakan dalam hati. Ia sudah duduk di bangku meja belajar. “Aku siap.”
kim Brothers memulai aksinya.
Kris mengambil bedak untuk anak-anak. Jongin berlari menuju kamar oema untuk mengambil beberapa peralatan. Sehun ditutup matanya, kata Kris ini kejutan. Jadi, Sehun tidak boleh mengintip.
Keduanya mempolas wajah tampan Sehun menjadi sangat manis. Sehun merasa aneh dengan berbagai riasan diwajahnya. Tidak terlalu terbiasa tepatnya.
.
Setengah jam kemudian…
“Selesai!” pekik Jongin, sedangkan Kris tersenyum bangga. Sehun segera membuka matanya, dengan tidak sabar Sehun melihat cermin. Sebelum hal itu terjadi, Kris menghalangi pandangan Sehun dari cermin.
“Eh, ada apa hyung?”
“Kamu gak percaya kalau hasilnya bagus?” Kris mengucapkan itu dengan nada yang terlihat dibuat-buat kecewa. Sehun merasa begitu bersalah.
“Bukan gitu, hyung! Aku hanya penasaran,” jelasnya tidak mau menambah kesalahpahaman.
“Ya, udah. Kamu berangkat aja. Baju kamu udah keren kok. Tadi disiapin oema,” Jongin mulai menetralisir suasana. Sehun memperhatikan bajunya. Ia tidak sadar telah digantikan baju. Wajahnya merona.
“Kami gak liat kok. Oema yang makein,” kata Kris. Oh, Kris kau pembohong yang ulung (masih kecil udah jadi pembohong, gimana gedenya?).
Sehun memantapkan hatinya. Jongin memberi kado yang sudah disiapkan oema dan Sehun dua hari yang lalu.
“Oema, appa, aku berangkat!!”
Kedua orang tuanya shock melihat anaknya yang bungsu itu. Kris memasang wajah datar sedangkan Jongin nyengir.
“Apa yang kalian lakukan pada Sehun?”
“Tidak ada!”
.
.
.
Sehun gugup seketika. Padahal ia baru saja sampai didepan rumah Zelo. Ia juga merasa heran saat orang-orang memperhatikannya saat berjalan menuju rumah Zelo sambil menahan tawa, menatap heran, dan banyak ekspresi aneh lainnya.
TOK! TOK! TOK!
“Zelo-ya, aku datang!” teriak Sehun. Sehun mendengar begitu ributnya didalam rumah Zelo, ditambah banyak suara khas anak kecil.
Pintu bercat abu-abu itu terbuka. Sehun menahan nafas. Terlihat seorang anak kecil yang terlihat urakan tapi manis membuka pintu itu.
“Hai Zelo!” sapa Sehun bersemangat. Anak kecil yang membuka pintu itu terlihat shock. “Se-se-sehun, ada apa sama kamu?”
“Apanya yang ada apa?” tanya Sehun kebingungan.
anak-anak yang berada dibelakang Zelo mulai penasaran melihat tingkah Zelo yang terus diam didepan pintu. Semuanya mulai mengintip. Dan tidak jauh beda dengan Zelo, semuanya terlihat shock.
“kenapa mukamu, Sehun?” sahut seorang namja kecil tapi manis yang mengintip dibahu Zelo.
“Luhan!” bukannya menjawab Sehun malah menyapa namja manis tadi.
Zelo berlari masuk, dan kembali membawa cermin kecil. “Lihat ini!”
Sehun bingung dengan sikap Zelo yang menyuruhnya melihat kaca. Akhirnya juga ia melihat kecermin itu. dan…
“KRIS HYUNG! KKAMJONG HYUNG!!!!!!!!!!!”
.
.
.
“Hachuu!”
“Hachuu!”
Kedua bersaudara itu dengan kompak bersin. “Kok tiba-tiba pilek sih!” sungut Jongin. kris juga ikut-ikutan bingung, ia menggaruk hidungnya.
“Seperti ada yang ngomongin kita.”
“Apa…”
Kedua bersaudara itu diam, dan tiba-tiba…
“Hahahahaha~”
“Hahahaha~”
Keduanya tertawa bersama-sama. Betul-betul saudara kembar yang kompak bukan??
TBC
A/N :
Hayyy, saya bawa fanfic yg ratingnya K. aneh gak?
Ff ini aku bikin gara-gara nongkrongin ‘Hello Jadoo’ sama adek.
Siapa dari kalian yang ngefans ama GOT7? Penampilan mereka emang keren. Penuh atraksi. Tapi lagunya ‘Girls Girls Girls’ kayak cowok pede bgt kalau disenengin semua cewe (tapi belum cari translate.a, mohon maaf kalau salah). Aku juga pengen bikin ff yang kayak gitu. Mungkin straight?
Dan mohon maaf disini Kai and Sehun dizholimi, tapi Kris gak (nyelamatin bias).
A~yo..
Di review readers!!!!!!

Selasa, 28 Januari 2014

B.A.P day!!


Happy ‘B.A.P’ day!!!
HAPPY B.A.P DAY!!!
(walau udah lewat) 
Yuhhuuuu! B.A.P udah 2 tahun. Keren banget!
Ah, capek gue teriak-teriak kayak gini *padahal Cuma ngetik doank!
Iya, sih! Ngetik doank. Tapi perasaan senengnya tuh emang agak gimana gitu! Gue sebagai BABY ngerasa kayak gini banget.
Emang, gue jadi BABY gak terlalu lama. Mungkin Coffe Shop dirilis, disitu gue udah matenin diri gue jadi Baby (ditengah-tengah jadi EXOFans).
Awalnya, gue gak terlalu ngeh ama BAP, dikarnakan lagi heboh-hebohnya SMEnt ngeluarin boygroup baru. Jadi rookie-rookie (yang debut tahun 2012) gak terlalu gue peduliin.
Dan gue nyesel, kenapa baru sekarang gue ngefans ama BAP????
Pertama kali gue tauk ama BAP (yang katanya) saingan sama EXO. Keren! Jadi dari situ gue mulai ngeliat kualitas BAP (Dimana letak-letak yang bakal gue beda-bedain).
Gue setuju sama salah satu postingan yang beda-bedain EXO dan B.A.P. Tapi gue udah lupa. Gue gak mau ngebahas yang itu. pokoknya terserah pendapat orang-orang tentang kedua boygroup yang ‘insya Allah’ bakal terkenal nantinya (amin).
Biased gue sendiri di B.A.P adalah…
YONGGUK, ZELO, dan HIMCHAN. *Sebenarnya pengen gue bahas, Cuma belum terlalu tahu soal mereka, jadi ya sudahlah!
B.A.P ini boygroup yang gue akuin sebagai idola pertama gue diluar SMfans. Agak aneh juga, karena gue bukan orang yang suka konsep-konsep ‘bad boy’ kayak gitu. Bahkan waktu ngeliat mv Warrior, gue jadi bingung mana yang mau gue jadiin biased *rambutnya pirang semua.
Walaupun yang menonjol disitu Yongguk dan Zelo (karena gue seneng lagunya yang ‘never give up’ otomatis gue udah kenal keduanya), tapi gue tetep belum nentuin biased.
Karena gue (dulu) gak suka konsep kayak gitu, jadi lagu warrior itu gak terlalu gue dengerin banget. Dan dengan tragisnya, warrior dan power sekarang jadi lagu favorit gue.
Lalu, no mercy dirilis. Disini juga gue mulai menyukai musiknya. Gue suka saat mereka ngomong ‘No-no-no, no mercy!’ sambil jari jempolnya ditaruh dibawah itu bagian paling gue suka.
Rain sound juga enak, lagu ballad yang keren *balladkan ntu?.
Tapi~ yang paling bikin gue cinta mati sama B.A.P adalah COFFE SHOP!!!
Suaranya mereka disana lembuuuut banget! Gue juga suka gaya ngerapnya Yongguk dan Zelo yang lumayan pelan gak terlalu terburu-buru. Dan kesan dari lagu itu dapet banget. Kayaknya, member-member B.A.P pakek perasaan banget nyanyinya! :-p
Masih ngebahas soal lagu-lagunya B.A.P,
ONE SHOT itu lagu yang bikin gue terheran-heran. MVnya sendiri bikin gue jengkel sama Youngjae disono. Dia Cuma pura-pura jadi friends dari gangYongguk cs. Dan terasa begitu aneh saat di bikin 2 sken gitu.
Satunya sebelum Youngjae mau dipeluk Yongguk, eh ditembak. Jadi adu tembakan. Dan sialnya, pada MATI SEMUA!!! *capslock jeblok
Yang kedua, saat bener-bener mau dipeluk, tiba-tiba aja polisi udah datang gitu. Nangkep. Dan dengan KEJAM-nya, Youngjae ngasih tauk kalau dia itu polisi. Apa gak tauk kalau Yongguk cs rela ngerampok untuk ngebebasin dia (yg ternyata bo’ongan doank).
Di ONE SHOT sendiri, dancenya Zelo terasa begitu keren. Dan gue ngeliatnya kayak cacing kepanasan (hahahaha).
Lagu BAD MAN yang bikin gue tambah penasaran ama BAP. Gue gak terlalu merhatiin mv dari BAD MAN ini. karena gue lebih tertarik ama lagunya (bisa jadi faktor mukanya member-member BAP dicoret-dicoret gitu, jadi males ngeliatnya).
Setiap lagu BAP, liriknya selalu ada yang menonjol. Dan itu akan jadi favorite gue pastinya. Di BAD MAN adalah saat ‘I got you feeling’ (mohon maaf jika salah, karena itu yang kedenger ditelinga gue). Di ONE SHOT, ‘uri ONESHOT, uri ONE SHOT’.
Di POWER, ‘fo-follow me, na~ na~ na~’. WARRIOR sendiri, ya pastinya ‘WAARIOR hu’
Dan STOP IT itu lagunya ceria banget. Beda dari konsepnya BAP (walau masih ada manly-nya). Tapi ini lagunya gak ngecewain banget.
Gue emang bukan pakar yang soal gini. Jadi, jika ada banyak pendapat yang gak berkenan disini, ya mohon maaf!
Ok, gue ngucapin selamat untuk B.A.P yg udah 2 tahun berkarya!
Semoga konsep ini tetap kalian pertahankan.
Saya sebagai BABY (dan EXOfans) akan dengan setia menunggu kalian!

Senin, 20 Januari 2014

ff what is love?


What is Love?
Author          :  IckhaNish
Title              :  What is Love?
Main cast      :  Park Sun Young (Luna F(x))
                        Do Kyung Soo (D.O EXO-K)
Cameo          :  *temukan sendiri
Genre            :  Romance (?)

Tess
Tess
Tess
Tiga tetes air membasahi rambut pirang milikku yang ku potong pendek. Ku mengadahkan kepala ke atas, melihat apa yang terjadi pada langit. Oh, Sial! Langit mendung. Dengan malas ku langkahkan kaki meninggalkan taman kota Seoul yang begitu asri. Di sini banyak pohon, dingin, dan terasa segar. Jadi itu aku sering duduk di bangku taman hanya untuk membaca buku.
Ini kegiatan yang paling kusuka jika sore hari. Membaca buku karya orang-orang yang terkenal di bangku taman bercat coklat yang dari aku menginjak kelas satu Menengah Atas. Hingga para penjaga taman mengenalku, karena aku sering mengunjungi taman indah ini.
Aku Luna Park, atau nama Koreanya Park Sun Young. Aku sebenarnya tinggal di Amerika. Karena Appa dan Oema sudah bercerai. Aku mengikuti Oemaku yang sangat menyayangiku. Appa yang mungkin dan semoga saja masih bisa ku anggap Appa ini tinggal di Korea bersama kekasih gelapnya. Eh, tolong dilarat! Maksudku dengan istri keduanya.
Apalagi bercerainya saat aku masih sangat kecil. Aku kekurangan kasih sayang seorang Ayah. Oema tidak menikah lagi. Ia memang terpuruk mengetahui bahwa ikatan pernikahannya hanya berakhir seumur jagung. Tapi, aku sangat bangga mempunyai Oema yang mampu bangkit dari keterpurukannya.
Sebenarnya, aku sangat sedih melihat Oema sangat terpuruk dengan cintanya. Itu yang mendasari aku tidak berani jatuh cinta. Aku terlalu takut jatuh di jurang yang sama. Dan tolong jika ada yang mau memberi tahuku sesuatu tentang cinta, kemarilah! Aku akan mendengarkannya dengan serius. Agar aku mengerti tentang hakikat cinta.
Ah, Sial! Hujan begitu deras, hingga memaksaku untuk mampir ke beranda sebuah café yang dekat dengan taman kota. Banyak sekali yang berteduh di sini hingga membuatku hampir sesak nafas. Sebenarnya tidak lucu jika aku jatuh pingsan di sini hanya karena berhimpitan dengan orang-orang.
Dengan isengnya, aku melirik ke arah orang-orang di sekitarku. Siapa tahu aku menemukan orang yang kukenal. Saat aku menoleh kekiri, entah kenapa tiba-tiba jantungku seakan berhenti berdetak. Seorang namja yang err… tampan sedang melihat hujan dengan tersenyum tipis. Sungguh, lelaki ini terlihat manis. Mata bulatnya menambah kemanisan yang ada di wajahnya.
Tiba-tiba saja, tanpa diduga, namja itu menoleh ke arahku. Tatapan mata kami bertemu. Aku kaget bukan main. Segera kusudahi eyes contact antara aku dan lelaki itu. Aku berpura-pura mengalihkan kepalaku ke arah lain. Semoga saja lelaki itu tidak sedang menatapku. Tapi, aku merasa ada yang terus memperhatikanku. Rasanya tidak nyaman. Ku tolehkan sekali lagi ke arah namja yang berada di sebelah kiriku ini.
Hei! Namja ini masih menatapku!
Dia memberikan senyum kecil ke arahku. Senyum kecil yang membuatku merasa bahagia. Senyum yang menenangkan. Apa ini yang dinamakan jatuh cinta? Tapi, gila saja. Mana mungkin aku jatuh cinta pada pandangan pertama.
“Mmhh… Aggashi apakah anda mau memakai payung saya?” tawar pria itu. perkataan yang membuatku terkejut. Lelaki ini belum pernah ku lihat, bahkan mengenalnya saja belum. Wah, sebenarnya tawaran yang menyenangkan. Tapi,… bagaimana dengan namja ini!
“Sepertinya tidak usah. Nanti anda kehujanan jika tidak memakai payung. Apalagi, ini bukan milikku, bagaimana cara saya mengembalikannya?” tolakku halus, disertai beberapa alasan. Dia hanya menanggapi dengan tersenyum. Tersenyum? Apakah pria ini terlalu murah senyum atau bagaimana?
“Tidak apa-apa! Aku bekerja di café ini. aku juga pulang lumayan malam. Jadi kemungkinan hujan berhenti mungkin sebelum saya pulang. Dan juga, jika mengembalikan payungku, lebih baik besok siang di café ini,” ucapnya, dan menjawab semua yang tadi kukatakan. Aku tidak sadar jika ia sedang memakai seragam di café ini.
“Tidak apa-apa, nih?” tanya sekali lagi. memastikan. Dia hanya mengangguk. “Gomawo! Payungmu akan selalu kukenang. Juga kebaikanmu. Sekali lagi ku ucapkan terima kasih!” ku ucapkan dengan tulus perkataan terima kasihku.
Ku buka payung transparan ini. Aku mulai menapaki jalan dan menjauh dari beranda café itu. Aku membalik badan dan melambaikan tangan ke arahnya, yang di balas pula olehnya. Entah apa yang ku lakukan hingga berbuat seperti itu. menurutku ini bukan perasan cinta.
Hari ini, aku ingin berterima kasih pada Tuhan, karena hujan ini membuatku bisa bertemu pria itu. Dan besok, aku juga akan bertemu dengannya. Mengembalikan payung ini. Tapi, kenapa aku senang? Hanya mengembalikan payung, bukan? Setelah itu segera pergi.
+_+_+_+_+_+_+
Hari ini, aku sekali lagi melangkahkan kakiku menuju taman kota. Eh, maksudku café di dekat taman kota. Aku masuk ke dalam café yang sudah dipenuhi banyak orang. Ku edarkan pandanganku. Bukan mencari lelaki itu, lebih tepatnya mencari tempat duduk yang masih kosong. Yes! Dapat.
Aku percepat langkahku ke meja kosong itu. ku letakkan pantatku. Tempatnya sangat indah. View-nya langsung menghadap ke jalan, karena memang aku sedang duduk di dekat kaca besar café ini. Aku masih menatap jalanan yang lumayan basah. Tadi saat aku pulang kuliah, hujan turun lagi.
“Ehemm…” sebuah deheman kecil membuatku tersentak dari pemandangan di jalan. Aku menoleh ke empunya yang punya suara. Loh,…
“Agasshi, bukannya anda yang kemarin? Anda ingin pesan sesuatu, atau mengembalikan payung saya?” tanyanya to the point. Dengan tergagap aku mengangguk. Entah mengangguk apa. Ku ambil payungnya yang kutaruh di bawah meja. Dengan tahu dirinya, ku ucapkan terima kasih sekali lagi. Dia hanya mengangguk lucu (?). Aku jadi ingin mengenal sosok di depanku ini.
“Lalu anda ingin memesan apa?” aku berpikir sejenak. Aku bukanlah tipe orang yang selalu tidak menyiapkan segala sesuatu. Karena yang kurencanakan adalah, ‘aku hanya ingin mengembalikan payungnya’ itu saja. Tapi, sepertinya aku ingin berlama-lama disini. “Susu coklat panas.” Ia tersenyum ke arahku dan mengangguk. Dan segera pergi menuju dapur café ini.
Drrt… drrt… getaran ponselku membuatku merasakan sensasi getaran pada celanaku hingga terasa di kulit. Segera ku ambil ponsel yang berada di saku celana yang kupakai. Sebuah pesan pendek rupanya. Dari sahabat yang paling kusayang. Krystal Jung.

From  : Krystal Jung
Oenni! Kau dimana? Aku mencarimu!

Sebuah pesan singkat yang sudah biasa aku dapatkan dari Krystal. Dia memang sering mencariku untuk mengerjakan tugas dari Dosen ataupun hal tidak penting lainnya. Aku membalas pesan singkatnya,

To   : Krystal Jung
Aku berada di café dekat taman kota!

Susu coklatku datang. Ku hirup udaranya. Yang mengantarnya masih tetap namja itu. tanpa sengaja aku melihat sebuah papan nama yang menempel di atas saku kemeja seragam yang ia pakai. Do KyungSoo. Tidak lupa aku mengucapkan terima kasih kepada namja itu.
Tidak lama berselang, aku melihat sesosok Krystal sedang celinguk kanan kiri. Mungkin ia sedang mencariku. Aku berdiri agar ia bisa melihatku. Ada untungnya aku duduk di kaca café ini. ia melihatku dan melambaikan tangannya. Tanpa aba-aba, Krystal masuk kedalam café yang sedang ku tempati ini.
“Tugas apa?” tidak ada dua detik dia duduk, aku mulai menanyakan maksud kedatangannya mencariku. Dia nyengir kuda.
“Hahaha… onnie, kau memang selalu tahu,” pujinya sambil memberikan dua jempolnya untukku. Bagaimana aku bisa tahu, jika kerjaannya selalu mencariku hanya untuk membuat tugas. Sebelum ia memberi tahuku apa tugas yang dimaksud, seorang yoeja yang sekitar umur dua puluh tahunan mendekati kami. Seorang pelayan. Krystal memesan segelas espresso.
Yang membuatku heran, kenapa bukan Kyungsoo saja yang menawarkannya?
“Onnie… Onnie… ONNIE!” bentakan Krystal membuatku sadar. Sepertinya aku melamun. “Ck. Sedang melamun apa kau Onnie? Di panggil dari tadi tak menyahut!”
Aku hanya nyengir lebar, tidak tahu harus menjawab apa.
+_+_+_+_+_+_+
Bruuk!!
“Aduh!” jeritku tertahan. Aissh, siapa yang berani-beraninya menabrakku. Ku pegangi kepalaku yang sempat-sempatnya menyentuh lantai. Sial! Sakit sekali.
“Oh, mianhe!” kata orang yang baru saja menabrakku itu. Dia tidak tahu apa kalau aku sedang buru-buru. Sebenarnya aku tidak tahu siapa orang yang menabrakku, karena aku jatuh terduduk. Orang itu? Ia masih berdiri di depanku. Tatapan mataku pun hanya menatap ke keramik keras sialan ini.
“Mari ku bantu.” Tawarnya. Aku belum menjawab, tapi dia segera mengambil tangan kiriku dan membantu berdiri. Aku masih meringis sebal. Sakit sekali. Sepertinya ia namja, tahan banting begitu!
Ku dongakan kepalaku dengan namja yang masih memegang tanganku lembut. Entah kenapa, saat aku menatap wajah namja ini jantungku berdetak sangat cepat. Suaranya juga cukup keras. Aku takut ia mendengarkan detak jantungku.
“Terima kasih Kyungsoo-ssi,” ucapku tahu diri sambil melepaskan pegangannya. Entah sudah kali ke berapa aku mengucapkan terima kasih kepadanya. Dia terlalu banyak membantuku. Aku memalingkan kepala ke arah lain.
“Kau tahu darimana namaku?” tanyanya. Eh! Sekali lagi aku di buat salah tingkah di depannya. Ck, dasar bodoh kau Luna. Wajahnya yang kebingungan tiba-tiba berubah cerah. “Sepertinya aku tahu kau mengenalku darimana.” Memangnya ia tahu? “Pasti dari papan nama yang sering ku pakai saat di café.” What! Aduh, dia tahu! Nanti di kira aku memperhatikannya terus.
“Ya, seperti itulah!” responku asal. Dia tersenyum. Kenapa dia harus selalu tersenyum? Itu membuatku tambah gila. Kyungsoo, tolong jangan tersenyum di depanku. Kau ingin membuat aku gila apa?
“Mmhh… oh, iya! Namamu siapa? Kau sudah mengenalku tapi aku belum mengenalmu,” dia mengajakku berkenalan. Wow, semoga saja ini bukan mimpi.
“Namaku, Park Sun Young. Teman-temanku memanggilku Luna,” jawabku lancar.
“Bisa tidak aku memanggilmu Youngie, atau tidak Sunnie?” He, terdengar aneh.
“Se, sepertinya tidak bisa. Panggilan itu menggelikan,” tolakku. Enak saja namaku di ubah-ubah seperti itu.
“Wah, sayang sekali!” sepertinya ia terlihat kecewa. Maafkan aku Kyungsoo, sepertinya aku kurang cocok dengan nama panggilan seperti itu. tunggu dulu, kenapa dia ada di sini?
“Kyungsoo-ssi, emmh… sebenarnya ada apa kau kemari?”
“Memangnya kenapa? Aku kuliah di sini.” HA!!!
“Kuliah disini? Kok aku tidak tahu?” jeritku tertahan. Dia hanya terkekeh melihat kelakuanku.
“Karena aku sudah semester empat. Ya, sudah aku pergi dulu. Bye Youngie!” ia melangkah dengan ringan. ku amati punggung itu. Issh! Aku tidak gaul. Masa sunbae-ku sendiri aku tidak tahu.
+_+_+_+_+_+_+
“APA TADI OENNI BILANG? ONNIE KENALAN DENGAN DO KYUNGSOO!!!” teriakan Krystal menggema di kantin. Membuatku harus membekap mulutnya. Semua orang di kantin menatap kami heran.
“Jung Soo Jung, bisa tidak jangan heboh seperti itu?” tegurku pelan. Entah kenapa ia memberiku death glare miliknya. Ada apa sih dengan Krystal? “Wae?” tanyaku polos.
“Ck, masih belum mengerti maksudku?” ucap Krystal. Aku hanya menggeleng pelan. Memangnya ada apa sih? “Onnieku sayang, kau harus tahu sesuatu tentang seorang Do Kyungsoo.” Aku mendengar perkataan Krystal jadi bingung sendiri. Apa maksudnya? Dan kenapa aku sama sekali tidak connect dengan topik yang sedang kami bicarakan ini.
“Onnie, Do Kyungsoo adalah salah satu mahasiswa terfavorit dan terpintar di Kampus ini. nilainya juga selalu di atas rata-rata. Dan kau adalah orang yang paling beruntung karena bisa di ajak kenalan olehnya.” Papar Krystal. Aku hanya manggut-manggut. Memang tidak mengherankan jika Kampusku banyak sekali mahasiswa terfavorit. Ya, kebanyakan dari mereka yang di sebut favorit itu hanyalah berwajah cantik ataupun tampan. Contohnya saja Krystal, sahabatku ini.
“Memangnya kenapa jika aku di ajak kenalan olehnya kau bilang paling beruntung?” aku tidak habis pikir dengan perkataan Krystal.
“Ck, ya jelas dong. Dia adalah orang yang dingin. Tidak banyak yoeja bisa bicara padanya. Jika ada yang nekat bicara dengannya pasti hanya di cuekin. Dan itu memalukan.” Kembali Krystal menjawab pertanyaanku. Aku hanya memutar bola mataku malas. Masih banyak pertanyaanku tentang Kyungsoo yang mungkin bisa di jawab Krystal. Sepertinya!
“Kalau dia termasuk namja dingin, kenapa dia sering tersenyum?” tanyaku sekali lagi, seakan-akan aku belum puas mengorek tentang diri Kyungsoo melalui Krystal. Ada gunanya juga punya chingu tukang gosip dan banyak tahu.
Tapi entah kenapa wajah Krystal terlihat shock. “Apa tadi Onnie bilang? Ia sering tersenyum? Maksudnya kepada Onnie?” aku hanya mengangguk. Sepertinya aku harus jujur. Wajah Krystal tiba-tiba saja melongo. “Wow, Onnie kau sangat beruntung. Padahal dari dulu aku selalu mengharapkan kalau ia tersenyum ke arahku walaupun itu hanya sekali.”
“Krystal kau aneh dan berlebihan!” tegurku. Memangnya yoeja-yoeja di kampus ini jarang di berikan senyuman oleh Kyungsoo? Aku masih tidak percaya.
+_+_+_+_+_+_+
Hari libur seperti ini kebanyakan orang akan pergi ke taman bermain atau di tempat wisata yang seru-seru. Tapi diriku, duduk di taman kota. Seperti kegiatanku sehari-hari. Dan juga termasuk kegiatan yang wajib kulakukan setiap sore. Walaupun ada tugas kuliah yang menumpuk, pasti aku akan tetap datang ke sini walaupun hanya beberapa menit saja.
Aku mulai membuka buku yang ku bawa dari rumah. Salah satu koleksiku. Entah kenapa aku tidak bisa konsentrasi membaca karena perkataan Krystal kemarin kepadaku.
“Wow, Onnie kau sangat beruntung.”
Beruntung dari segi apa sih sebenarnya? Hanya di ajak kenalan saja. Dan mungkin ia memang sering tersenyum. Hanya saja pada saat itu ia sedang malas. Tapi, aku merasa senyumnya agak beda. Terlihat kekanakan tapi menenangkan. Dan jika ia tersenyum pasti akan tambah manis dan tampan.
Eh! Apa yang sedan kau pikirkan Park Sun Young. Aisshh! Pabo, pabo, pabo.
“Jangan memukul kepalamu. Nanti gegar otak, baru tahu rasa!” tegur seseorang. Ku hentikan kegiatan memukul kepalaku sendiri. Aku hanya mengerucutkan bibirku. Kesal sekali melihat penampakan yang err… menakjubkan, mungkin!
“Ada apa kau kemari? Apa tidak bekerja?” tanyaku dingin untuk mengurangi kegugupan yang ada. Dengan santainya ia duduk di sebelahku. Entah kenapa Kyungsoo menghirup nafas panjang, seperti merasakan udara di taman. Terlihat sekali bahwa ia seperti melepaskan beban pikiran dengan menghirup nafas.
“Aku sering kemari jika akhir pekan.  Toh, aku bekerja nanti siang. Ya sebentar lagi aku akan berangkat,” kilahnya dengan tenang. Kenapa sih, pembawaannya tenang sekali. “Kau sedang membaca apa?” tanyanya sambil menunjuk buku yang kupegang. Aku menatap ke arah yang di tunjuk.
“Ini, hanya sebuah novel fiksi. Ceritanya indah menyimpan nilai-nilai dalam bersosial. Di buku ini pula ada pembahasan tentang musik.” Aku menerangkan buku yang sedang kubaca ini seperti apa. Dia hanya manggut-manggut tak jelas.
“Buku favoritmu?” aku mengangguk. “Oh, kukira kau sedang membaca buku yang menceritakan tentang kisah cinta.” Entah kenapa Kyungsoo mengatakan dengan nada menyindir. Tapi aku tidak peduli. Koleksi buku yang aku punya tidak sekalipun menceritakan tentang cinta, hanya sedikit dan tidak terlalu dimunculkan. Kebanyakan sih koleksiku, novel-novel yang isinya berat, komik, dan buku musik.
“Kau sendiri bagaimana?” dia mengerutkan dahinya, sepertinya tidak mengerti maksudku. Ku tepuk dahiku, menyadari kebodohanku. “Ma, maksudku sesuatu yang kau suka,” Jelasku. Entah kenapa dia seperti berfikir.
“Aku menyukai musik. Aku bekerja di café itu hanya iseng. Di karenakan aku sangat mencintai memasak.” Wow! Namja di depanku ini juga mencintai musik. Dan tadi apa ku dengar, ia cinta memasak! Bahkan aku sebagai yoeja tidak bisa memasak sama sekali. Ck, ck, ck, aku sungguh ingin memberikan dua jempol ke arah namja bermata bulat itu.
Kami terdiam. Suasana sangat hening. Tidak ada yang membuka suara setelah Kyungsoo mengatakan kesukaannya. Aku sendiri yang tidak menyukai keheningan seperti ini bingung apa yang harus ku katakan untuk membuka percakapan.
“Eh, sudah waktunya.” Pekiknya, aku yang berada di sebelahnya terlonjak kaget. “Youngie aku pergi dulu, ya!” pamitnya kepadaku. Aku mengerucutkan bibirku.
“Jangan panggil aku Youngie! Sudah ku bilang panggil saja aku Luna. LUNA!” protesku ke arahnya. Tapi, apa responnya? Dia malah menyeringai. Menunjukan smirk evil yang ia punya.
“Kenapa? Bukankah Sunnie atau Youngie terdengar lucu. Malah terkesan imut,” ungkapnya dan segera berlari. Aku yang sudah bersiap-siap untuk memukulnya menjadi urung. Ia sudah lari duluan, aku sendiri tidak bisa berlari. Sepertinya Kyungsoo bukan orang yang dingin seperti di katakan Krystal kepadaku. Yah, mungkin kali ini aku tidak sependapat denganmu Jung Krystal.
+_+_+_+_+_+_+
Seperti biasa di tempat yang satu tahun setengah aku menimba ilmu ini, di awali dengan rutinitas yang begitu membosankan. Dosen terus mengajarkan mata pelajaran yang membuat semua mengantuk. Bahkan diriku sendiri. Sebagai pelampiasaannya, aku menoleh ke jendela. Melihat para mahasiswa yang berlalu lalang. Entah kenapa mataku hari ini sangat tajam.
Oh my…
Namja yang seminggu ini terus membuat isi otakku hanya tertuju pada sesosoknya. Namja yang membuatku hampir mempercayai cinta. Namja yang selalu tersenyum manis ke arahku. Namja yang membuatku hampir gila karena senyum-senyum sendiri. Dan namja yang bisa membuatku terbang tanpa sayap walau hanya bertatap mata sedang menoleh ke kelasku. Ah, bukan! Dia pasti menoleh ke arahku, lebih tepatnya melihat ke arahku. Ia tersenyum begitu manis. Bahkan aku tak tahu kenapa aku begitu terpaku dengan senyumannya. Aku sudah rindu dengan senyumannya.
“Park Sun Young! Park Sun Young! PARK SUN YOUNG!” teriak dosenku membuatku sadar ke alam nyata. Wajah tuanya terlihat sangat garang. Ia mendekat ke arahku dengan tatapan membunuh. “Park Sun Young, apa yang kau lihat oeh? Papan tulis ada di depanmu, bukan berada di jendela. Kau mau ku suruh berada di luar kelas?” bentak dosenku ini yang jengkel setengah mati karena siswanya yang tidak tahu diri. Aku menunduk karena malu.
Ah, SIAL KAU DO KYUNGSOO!
+_+_+_+_+_+_+
Aku dan Krystal berjalan melewati koridor kampus sambil bercanda. Kami tidak memperhatikan sekitar saking hebohnya. Bahkan aku tidak peduli siapa yang di depanku. Dan sepertinya hari ini kami berdua terkena karma karena kecerobohan ini.
BRUK!!!
Suara terjatuh itu membuatku tersadar. Disana, Krystal sedang terjatuh dengan posisi terduduk. Aku jadi teringat pertemuan keduaku dengan Kyungsoo. Eh! Kenapa aku jadi memikirkannya? “Aduh, sakit! Hei kalau jalan pakai mata dong!” bentak Krystal ke arah orang yang baru saja menabrak-nya. Suara Krystal membuatku kembali ke alam sadar. Segera kubantu Krystal berdiri. Orang yang baru saja di tabrak Krystal juga tidak berbeda keadaannya, dan sekarang ia menatap tajam ke arah Krystal. Dan di balas pula oleh Krystal dengan tatapan membunuh.
“HEI KIM JONG IN!” panggil seseorang membuat kami bertiga menoleh ke asal suara.
“Hyung!” jawab namja berkulit tan ini. aku terpaku melihat orang itu. sesampainya ia di sini namja yang sudah menjerat hatiku itu tiba-tiba memberiku sebuah senyuman. “Hai Sunnie!”
WHAT!
“Yak…” belum selesai aku mengomel Krystal menyikutku.
“Benar katamu. Ia terlihat sangat manis jika tersenyum,” bisiknya. Aku melotot garang ke arah Krystal. SEJAK KAPAN AKU MENGATAKAN JIKA KYUNGSOO MANIS JIKA TERSENYUM!!!
“Hyung, kau kenal mereka berdua?” tanya namja yang bernama Kim Jong In itu. sedangkan Kyungsoo hanya membalasnya dengan mengangguk dan terus menatapku. AIGOO… ada apa dengan namja satu ini?
“Krystal sepertinya ada yang ketinggalan di kelas. Ayo kita mengambilnya!” seruku tiba-tiba. Dengan segera aku menarik Krystal hingga berdiri dan menyeretnya pergi dari situ. Aku hanya berbohong. Itu hanya sebuah alasan agar aku tidak bertemu dengan Kyungsoo.
Yak, apa mungkin aku terkena karma karena tidak mempercayai cinta?
+_+_+_+_+_+_+
Entah kenapa hari ini aku terasa janggal dengan Kyungsoo. Namja itu begitu aneh dan misterius hari ini.
Tadi ia sempat menelfon untuk bertemu di taman kota pukul 8 malam. Dan aku menyetujuinya. Sejujurnya aku tidak mau keluar malam. Alasannya sih simple. Angin malam sangat tidak baik untuk kesehatan. Tapi aku bukan tipe orang yang suka ingkar janji, jadi kuturuti permintaannya.
Dan disinilah aku sekarang! Taman kota!
Sebenarnya sih masih di pintu gerbangnya. Aku hanya menghembuskan nafasku dan merapatkan jaket tebal milikku. Aku masih ingat kenangan-kenanganku bersamanya. Saling bertukar buku bacaan, bercanda bersama, berbagi duka bersama. Ah, tidak terasa sudah hampir mencapai dua tahun kami bersahabat. Bahkan Jongin dan Krystal juga ikut-ikutan akrab walaupun keduanya sering terlihat adu mulut. AIISH… aku ingin sekali keduanya menjadi sepasang kekasih, *saya juga kepengen kok! >_<
Tiba-tiba pandanganku tertutup. Semuanya gelap. Dan kuraba sekitar mataku. Ah, sial! Tertutup oleh kain. Dengan segera aku mencoba melepaskan ikatan pada belakang kepalaku. Dan tanpa disadari sebuah tangan mencegahku. Tangan milik siapa ini yang berani-beraninya mengerjaiku.
“Nuguya?” tanyaku pelan. Dan yang terjadi selanjutnya aku dituntun dengan cara mendorong bagian bahuku. Tidak secara baik-baik, dengan begitu kasar. “Hey! LEPASKAN AKU!” berontakku yang kesal setengah mati dengan orang iseng ini. Aku jadi takut diapa-apakan oleh orang ini.
Dari tadi aku terus memberontak, tetapi orang ini masih terus memegang bahuku. Dan tidak lama kemudian aku berhenti dan tangan yang dari tadi menuntunku hilang begitu saja. Dengan terburu-buru aku melepaskan ikatannya. Mengerjap-ngerjapkan sedikit karena beradaptasi dengan cahaya yang masuk di mataku.
“Eh…” terpukau! Aku terpukau dengan pemandangan disekitar taman yang baru saja dirombak. Di depanku ada dua bangku dan satu meja bundar. Dan aku bisa melihat rangkaian bunga berbagai warna dan bentuk yang ditempel pada dinding tipis yang bertuliskan…
Would You be My Girlfriend Youngie?” suara itu, suara yang menjadi pengantar tidurku, suara yang selalu membuatku iri, dan suara yang membuatku selalu rindu akan kehadirannya ada di belakangku. Aku membalikan badanku dan melihat namja yang baru saja menyatakan cintanya tengah tersenyum kearahku. “Saranghae, Park Sun Young!”
“Kyungsoo, kau yang menyiapkan ini semua?” tanyaku tidak percaya. Ia mengangguk masih dengan tersenyum.
“Tapi aku dibantu dua bocah itu,” tunjuknya menuju dinding tipis itu. Aku menoleh kebelakang melihat dua insan yang sedang menyembulkan kepalanya sambil terkekeh geli. Ck, dasar KaiStal! Banyak akalnya.
“Sunnie…” panggilnya. Aku menoleh menghadap kearahnya dengan tampang cengo. Wow, Do Kyungsoo kau terlihat berbeda! Padahal ia hanya mengenakan kaus putih ditambah jaket kulit hitam yang kubelikan saat ia berulang tahun, ditambah dengan celana jeans yang panjang. Aku tahu tentang selera fashion-nya yang cenderungcasual dan terlalu sederhana.
“Aku tahu aku tampan. Jadi jangan terus memandangku seperti itu!” katanya PD. Hei Do Kyungsoo! Sejak kapan kau menjadi sosok yang sangat percaya diri ini. “Bagaimana Youngie?”
“Bagaimana apa?” tanyaku bingung. Tiba-tiba ia mengubah raut wajahnya menjadi cemberut, dan melangkah mendekat. Dan tanpa kusadari ia sudah memegang tanganku dengan erat. “Bagaimana atas jawabanmu dengan pernyataanku?”
Aku terdiam. Jantungku berdetak sangat kencang sekarang. Aduh Park Sun Young, kenapa kau tidak bisa mengendalikan dirimu sendiri???
“Kau tahu, gara-gara kau aku mempercayai cinta. Jantungku berdebar sangat keras jika aku bersamamu, aku gugup jika kau tersenyum kearahku. Dan aku adalah…” dia diam, menarik nafas. Aku jadi menahan nafas menunggu pernyataan-pernyataan selanjutnya yang akan keluar dari mulutnya.
“Kyungsoo hyung itu stalker-mu Noona!” teriak Jongin begitu keras hingga Krystal menyikut perutnya. “Ouch, sakit tauk!” protes Jongin. Mendengar penuturan Jongin, aku membulatkan mataku, terkejut. Kyungsoo pun tak kalah terkejutnya. Matanya yang sudah bulat itu makin membulat.
“K-kau…”
“Ha… ha… ha… maaf ya!” ia menggaruk tengkuknya canggung. Aku hanya terkekeh pelan melihat kelakuannya. Dengan reflek aku memeluknya erat, seakan-akan ia akan pergi menjauh dariku.
“Nado Saranghe My Baby Kyungie!!!” jawabku lirih. Tiba-tiba ia membalas pelukanku.
“Sudah kuduga. Kau akan membalasnya.” Aku menjawil hidungnya pelan. “Dasar ke-PD-an!” ejekku. Kami berdua tertawa bersama, bermesraan layaknya sepasang kekasih.
“Gara-gara dirimu aku jadi mengerti tentang cinta. Dulu aku bertanya-tanya ‘apa itu cinta?’ tapi karenamu semua terjawab,” ujarku masih dalam dekapannya. Bahkan aku tidak ingin melepasnya barang sedetik saja. “Karena cinta itu…”
“Antara aku dan kamu. Sebuah kesederhanaan yang manis. Karena disana hanya ada satu kata…”
“Yaitu ‘CINTA’” lagi-lagi kami tertawa. Lihatlah betapa kekanakan kami. Saling sahut menyahut tentang perasaan yang kami rasakan sekarang. Dan untuk selamanya!!!
Cinta itu juga seperti coklat,
Manis dalam mulut dan menenangkan perasaan
Tapi coklat juga sering membawa penyakit jika diberi banyak pemanis
Hingga menghilangkan khasiat dari coklat yang masih murni

END
fanfic ini udah ke publish di wp ama di akun ffnet ku