Rabu, 12 Februari 2014

ff BaekJi - Peterpan


PETERPAN

Aku akan menjadi peterpanmu
Lelaki yang berhenti ditengah waktu

Author      : ByunKaNish
Main cast  : Byun Baekhyun
                   Jung EunJi
Other cast : *entahlah, cari saja sendiri
Genre        : Romance, songfict







“BYUN BAEKHYUN! IREOOONAAAAA!”
Teriakan itu begitu membuat telingaku semakin sakit. Aissh! Mengganggu hari liburku saja!!!
“BAEKHYUUUUUUUN!!”
“APPPAAAA!!!”
Aku tidak sengaja berteriak karena terpancing. Ini bukan salahku hingga membuat gendang telinga kalian semua pada rusak. Salahkan saja orang yang berteriak di dekat telingaku. Dan aku begitu malas untuk membuka mata.
“BAEKHYUN! CEPAT BANGUN!!”
Hei, apakah hari ini ada lomba berteriak nasional? Kenapa dari tadi orang ini berteriak terus menerus. Apakah sedang latihan, ya?
“BAEKHYUN!” bahkan sekarang orang ini menyingkap selimutku. Ini betul-betul MENGGANGGU TIDUR PANJANGKU!!!
“Baekhyun, oema akan hitung sampai tiga. Jika kau tidak bangun, oema pastikan tidak ada susu strawberry diatas meja makan saat sarapan pagi. Satu… du…”
“Iya, aku bangun!” aku langsung bangun begitu mendengar ancaman yang begitu menakutkan (bagiku). Susu strawberry adalah tenagaku untuk menjalani satu hariku. Tanpa ada susu istimewa tersebut, tubuhku lemas. Disana oema sedang menyeringai senang melihat anaknya yang begitu tampan ini terpancing dengan ancamannya.
“Bagus. Cepat cuci muka dan gosok gigi, setelah itu bersihkan loteng” perintah oema. Aku melongo. Membersihkan loteng yang begitu kotor, menjijikan, dan banyak tikus! IUUUYYHHH…
“Lo-loteng. Oema” pekikku. Oema terlalu kejam.
“Tidak ada protes Byun. Wake up.” Untuk kedua kalinya di pagi ini aku melongo. Sejak kapan oema sok-sokan bahasa Inggris???
peterpan
Aku membersihkan loteng dengan setengah hati. Oh, mohon di ralat! Maksudku tidak ada sampai setengah hati aku membersihkan loteng ini. berkali-kali aku menjerit karena melihat tikus, kecoa, dan serangga-serangga menjijikan yang menepati loteng rumahku. Untung saja oema tidak mengintipku yang begitu takut dengan binatang-binatang kecil itu. mau ditaruh dimana mukaku?
Saat aku membersihkan kaca jendela kecil yang langsung menghadap kejalan besar, seekor kecoa melintasinya membuatku menjerit dan tanpa kusadari aku kehilangan keseimbanganku. Hal itu membuat dus-dus yang tadi sudah kutata rapi berhamburan. Beruntung aku terjatuh di kardus-kardus yang tidak akan membuat badanku sakit.
PUKK!!!
Sebuah benda jatuh tepat dikepalaku. Ouch, apa-apaan ini?
Kulihat benda itu terbuka. Maksudku benda yang tadi kumaksud adalah sebuah buku. Ya… sepertinya buku harian. Buku itu sudah sangat kusam. Aku menatapnya dengan pandangan menerawang. Seingatku, aku menulis buku harian pertama kalinya tentang cinta monyetku. Ah, aniya! Cinta pertamaku!
Aigoo… kenapa wajahku panas. Kuyakin wajahku sudah memerah. Tanpa sadar aku menutupi wajahku. Ouch, jangan datang kemari masa lalu. Hush! Hush! Hush! Pergi sana! Pergi kekutub utara lalu membeku disana dan jadi fosil yang abadi sana. Pergi!!!
SRETT!!!
Terdengar kertas yang seperti terbuka. Karena penasaran kumengintip dari balik jari-jari lentik milikku. Disana ada sebuah gambar yang membuat darahku berdesir hebat. Jantungku berdetak kencang. Dengan perlahan kuambil buku diari itu dan melihat gambar yang kubuat sepuluh tahun yang lalu.
Kertas buku harian itu sudah berwarna kekuningan dan sangat lusuh. Mungkin karena sudah dimakan waktu. Aku menyapukan tanganku menatap gambar yang kubuat 10 tahun yang lalu. Masih baik dan… cantik!
Ugh! Aku ingin kembali ke masa lalu. Sialnya, aku tidak bisa memutar kembali waktu.
Kubuka halaman selanjutnya. Aku jadi ingin menangis membacanya. T_T

7 mei, 2002
Ini buku harian pertama yang aku punya. Senang sekali mendapatkannya dari orang yang kusuka. Aku akan menjaganya karena ini hadiah yang sangat berharga untukku.
Namanya Jung Hyerim. Orang yang paling kusukai didunia ini. Hyerim sangat manis dan cantik. Poni ratanya itu membuatnya imut. Wajah polos dan suara merdu miliknya membuatku ingin tersenyum sendiri jika mengingatnya.
Aku seperti orang gila, ya?
Itu karena Jung Hyerim. Yang sering kupanggil ‘EunJi’
Entah darimana aku memanggilnya Eunji. Yang terpenting ia dan aku bisa menjadi teman yang dekat.
Tertanda
Byun Baekhyun ‘yang sedang  jatuh cinta’

Aku memerah.
Sekecil itu aku bisa mengucapkan kata cinta dengan mudah. Ouch! Aku malu!!!
Aku memposisikan diriku duduk di dekat jendela loteng. Aku tahu loteng belum bersih. Mana berani aku turun dan mendengar suara melengking milik oema.
Kubuka halaman selanjutnya. Aku sudah tidak ingat apa yang kutulis. Semoga saja halaman selanjutnya tidak memalukan.

21  juli, 2002
Hari ini adalah pengalaman yang menegangkan. Aku yang bocah bisa mengalahkan anak-anak berandalan. Keren sekali diriku ini! tapi tetap saja taruhannya adalah wajah tampanku yang sekarang mulai bonyok.
aku memang anak kecil terbodoh menurutku.
Mana ada anak kecil yang berani bertarung dengan lelaki yang lebih besar dari kakaknya. Aku bodoh karena Eunji.
Dia diganggu, dan aku hanya membelanya. Tapi orang dewasa itu kasar  dengan anak kecil sepertiku. Ia memukulku hingga hidungku berdarah. Itu membuat Eunji menangis. dia jelek jika menangis.
Lalu Eunji membawaku kerumahnya dan Jung ahjuma mengobatiku. Eunji terlihat marah-marah karena aku nekat. Aku tahu dia khawatir padaku yang kecil ini. hal itu yang selalu kusuka dari Eunji.
Tertanda
Byun Baekhyun ‘yang nekat karena Eunji’

Aku ingin tertawa mengingat bagaimana saat itu. saat aku menolongnya. Idiot sekali aku. Itulah yang kumaksud dengan cinta. Terlalu buta!
Aku memegang pipiku yang sudah mulus. Kenangan yang manis. Kupeluk diaryku ini. mendekapnya. Seolah-olah orang yang daritadi kuceritakan ini tengah kupeluk. Tak lupa aku menutup mata untuk menambah fantasi liarku.
Setelah puas ‘bermesraan’ dengan buku diaryku ini, aku melanjutkan membacanya. Mungkin mengingat masa lalu pada waktu liburan tidak apa-apa donk!

19 agustus 2002
Ulang tahun Eunji kemarin meriah sekali. aku diundangnya. Ia bahkan memberikannya langsung padaku. Manis sekali. Aku merasa semakin percaya diri untuk menyatakan perasaanku.
Kemarin aku melakukan hal yang bodoh.
Setelah memberikannya ucapan selamat, aku sudah punya rencana untuk menyatakan perasaanku. Aku juga sudah berlatih sangat keras didepan kaca. Tapi perbedaanya berbeda saat didepan orang yang kau tuju.
Aku mati rasa. Aku tahu tanganku sudah dingin. Ia menatapku dengan bingung. Aku juga bingung. Dengan cepat aku bilang aku menyukainya sejak Eunji menjadi orang pertama yang memberikan ucapan selamat ulang tahun untukku. Dan ia juga sempat memberikanku hadiah ini.
Saking gugupnya aku mencium bibirnya dan pulang begitu saja. Aku malu dan semakin malu saat bertatap muka dengan Eunji tadi pagi.
Tertanda
Byun Baekhyun ‘yang pemalu’

Ya Tuhan! Betulkah aku menyatakan perasaan padanya. Memalukan!!!
Kujedotkan kepalaku beberapa kali kekaca jendela. Sumpah! Aku tidak sadar akan hal itu. dengan perasaan malu kubuka halaman selanjutnya.

30 agustus, 2002
Aku sudah berbaikan dengan Eunji. Dia masih ramah seperti biasanya. Dan ia melupakan kejadian saat ulang tahunnya kemarin.
Aku dan dia menghabiskan waktu di perpustakaan sekolah. Kami hanya iseng saja. Membuka buku bacaan yang menurutku tidak menarik.
Eunji membaca buku berjudul Cinderella. Apa bagusnya buku seperti itu? Aku tidak mengerti jalan pikiran perempuan. Ia selalu menyebutkan Cinderella sangat cantik, baik, dan sangat tulus.
Setelah membaca buku Cinderella, ia mengambil buku berjudul PETERPAN. Aku menyukai cerita itu. kami membacanya bersama. Aku selalu menggumamkan jika Neverland adalah negeri terbaik yang pernah ada. Karena anak kecil tidak membutuhkan untuk menjadi dewasa.
Eunji juga bilang jika Wendy juga terlihat cantik. Tapi menurutku Eunji lebih cantik dari Cinderella ataupun Wendy.
Dan ada janji bodoh yang kulakukan pada Eunji.
Waktu itu aku mengatakan pada Eunji :
“Kita akan terbang bersama Tinkerbell. Dan aku akan meneemui dirimu di Neverland. Ditempat itu, dimana kita bisa kembali saling memandang dan tersenyum. Aku akan menjadi Peterpanmu, anak kecil  yang berhenti ditengah waktu.”
Dan ia hanya mengangguk dan tersenyum antusias.
Tertanda
Byun Baekhyun ‘yang penuh keromantisan’

Aku tersenyum. Wow! Aku sangat romantis. Semoga saja aku mengalahkan tuan Park itu atau kalau tidak Luhan hyung.
Peterpan adalah dongeng yang menjadi saksi kita berdua bukan? Dimana bisa aku membuat janji yang sangat aneh untuk kutepati.
 Bagaimana aku terbang dengan tinkerbell yang sekecil itu?
Lalu, aku juga tidak punya peta untuk pergi ke Neverland.
Peterpan? Mungkin itu adalah salah satu janji yang bisa kutepati. Tapi dimana aku bisa menemuinya?
Dengan nafas tertahan, aku membuka halaman selanjutnya. Halaman terakhir. Mungkin ini akan menjadi halaman yang menyedihkan.

1 januari 2003
Natal dan tahun baru tidak menyenangkan tanpa Eunji. Ia pindah ke Busan. Neneknya sedang sakit dan keluarga Eunji sedang dibutuhkan untuk kesembuhan neneknya.
Aku benci Eunji pergi. Ia menangis saat berpamitan padaku malam natal kemarin. Eunji juga menyempatkan membelikanku sebuah ukiran kayu yang bertuliskan :
“Eunji dan Baekhyun akan selalu menjadi Wendy dan Peterpan”
Ia menerimaku untuk memanggilnya Eunji. Walaupun dari dulu Eunji tidak keberatan jika aku memanggilnya bukan dengan nama aslinya.
Setelah memberi benda berharga itu aku ikut menangis dan kami saling berpelukan. Aku tidak ingin ditinggal Eunji. Aku mengurung diri dikamar. Eunji pergi. Aku selalu menangis jika melihat foto kami berdua ataupun ukiran yang diberikan Eunji selalu membuatku menangis.
Aku cengeng!
Tertanda
Byun Baekhyun ‘yang cengeng’

Aku tersentak. Seingatku tadi saat membersihkan kardus ada ukiran yang terjatuh. Dengan segera kubongkar kardus-kardus itu. tidak peduli jika kardus-kardus itu menjadi lebih berantakan lagi.
Ketemu!
Ukirannya tidak berubah. Masih bagus walau terlihat kusam. Aku mengambil buku diaryku dan membawa ukiran ini turun.
Loteng? Lupakan! Aku sudah tidak peduli.
Saat dibawah, aku melihat oema tengah menatap televisi yang sedang menampilkan acara musik.
Ujjeom geurido babo gateunji
Subaek beoneul nunchil jwodo
Nae mameul molla neon 
Nan hangsang ireonde 
Ujjeom geuri mollayo
Hampir saja kulewati jika aku tidak mendengar suara khas yang sering kudengar sejak kecil walau agak berbeda. Kupalingkan kepalaku menghadap acara yang sedang ditampilkan. Dan mulutku melongo.
Itu Eunji!
Dia member girlgroup itu. aku masih terpaku saat oema memanggilku. “Baekhyun, lihatlah! Itu Hyerim. Masih cantik seperti biasa ya.”
“Eunji! Itu Eunji oema!!!! Dia debut duluan dari aku! Dia curang~” jeritku seperti kesetanan. Oema menatapku yang bersikap autis. Aku melompat-lompat sambil menunjuk-nunjuk ketelevisi yang masih memajang group yang bernama A-Pink ini.
“Hei, stop Baekhyun!” oema mulai kesal melihat tingkahku. Karena kesal ia mengganti channel dan membuatku mendesah. Dengan kekuatan angin (?) aku merebut remote dan mengganti dengan siaran yang tadi.
Aku bisa melihat Eunji. Dia didepan televisi. Cantik sekali!
“BAEKHYUN!! Kamu bau. MANDI SANA!!!”
Ouch, aku melupakan orang tuaku ini.
peterpan
One years later…
Aku sudah debut!
Aku menyukai groupku. EXO namanya. Keren kan! Hal-hal yang menyenangkan selalu terjadi diantara kita semua. Diantara kita berdua belas (walaupun sekarang terbagi menjadi dua).
Dan disinilah keuntungan yang bisa kudapat. Aku bisa bertemu Eunji disela-sela kegiatan yang sangat menyibukan. Oema bahkan menelfon berkali-kali untuk menyampaikan salamnya kepada Eunji.
Aku sih mau-mau saja. Yang paling susah sih menemuinya. Menemui Eunji yang sama-sama super sibuk.
Dan peristiwa yang membuatku dapat bersua pandang dengan Eunji adalah saat kami berdua bertabrakan. Aneh dan terlalu biasa.
Padahal aku sudah berfantasi liar jika hal yang paling sampai dikepalaku adalah ; Eunji terpeleset dan aku menahannya dengan sentuhan yang sangat romantis. Bunga-bunga mawar berjatuhan untuk menambah kesan romantis.
Oh, itu juga sama-sama sangat biasa dan menjijikan.
Aku masih ingat perkataannya saat memanggilku. “Baekhyun!” dengan nada yang terdengar sangat shock membuatku hanya mengulum senyum.
“Hai, Eunji!” sapaku. Tanpa malu ia memelukku. Untung saja disekitar TKP sedang sepi.
“Aku merindukanmu, hiks.” Ia menangis.
“Jangan menangis. Kau jelek tauk jika menangis. Oema nitip salam,” ujarku lugas dan melepaskan rengkuhan kami. Walaupun sebenarnya, aku tidak rela.
“Saranghae!”
“Eh…”
Wajahnya memerah. Mungkin karena tangisan dan menahan malu. Aku mengulum senyum tipis. “Aku juga mencintaimu Eunji-ya! Dan terima kasih karena kau memakai nama Eunji untuk name stage-mu. Aku tersanjung sekali.”
Kami berpelukan. Melepaskan rindu dan perasaan yang telah tersimpan lama.
peterpan
Peterpan!
Lagu yang manis yang berada di album XOXO. Dan menjadi lagu favoriteku. Mungkin karena lirik dari lagu itu sama persis seperti alur dalam hidupku.
Dan aku sudah menepati janjiku. Menjadi Peterpan untuk Eunji. Dan aku juga berterimakasih untuk Peterpan yang berada dinegeri Neverland itu. semoga saja kau bahagia dengan Wendymu.
Karena aku juga bahagia dengan Wendi’ku’
Terbang bersama Tinkerbell akan ku temui dirimu di Neverland bersama semua kenangan ini
Ditempat itu, dimana kita bisa kembali saling memandang dan tersenyum
Aku akan menjadi Peterpanmu, Lelaki yang berhenti ditengah waktu
Aku akan selalu bersamamu dan selalu mencintaimu, meski canggung kadang menyapaku
END
Hahaha~
Fanfic apaan nih. Kesambet apa bikin EXOPINK (BaekJi lagi). Ini udah proyek lama. Makasih jika ada yang comment!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar